Skip navigation

 

 

 

 

 

 

Label : Vice Records

Duo The Raveonettes asal Denmark ini selalu membawa kejutan menarik dalam setiap album mereka. Raven In The Grave juga masih penuh dengan kejutan lagu-lagu ciamik yang membuat anda ingin sekedar mengintip lirik lagu-lagunya atau tak sabar membayangkan musiknya akan kembali hadir menjadi soundtrack serial televisi keren lainnya setelah dua hits mereka, Suicide dan Last Dance menghiasi serial Gossip Girl. Banyak penggemar yang menyebut-nyebut album ini bisa jadi album terbaik mereka. Sebelum terlalu dini mengiyakan pernyataan itu, sebaiknya anda juga menyimak lebih dulu album-album Raveonettes sebelumnya. Raven In The Grave is one of the must have albums of the year. (pp)

Free! Magz April 20 ’11

 

 

 

 

 

 

 

Label : Slumberland

Setelah hadir lewat album pertama yang menjadi bahan pembicaraan di kalangan penggemar musik independen dua tahun lalu dan memiliki banyak pengikut, band indie yang berdomisili di New York ini masih tampil memukau lewat album kedua. Musik yang disuguhkan sungguh konsisten, membawa nada-nada shoegaze di awal ‘90an yang membuat pendengarnya seperti dibawa kembali mengharu biru ke masa-masa dimana The Cure dan My Bloody Valentine dielu-elukan. Beberapa lagunya pun mengingatkan pada The Cure di era awal dan pertengahan tahun ‘90an. Bila anda cukup puas menyimak album pertama mereka, maka bersiaplah untuk dibuat lebih terkesima mendengarkan album terbaru ini. Untuk penggemar shoegaze, lagi-lagi album ini adalah menu yang tak boleh dilewatkan. Tak hanya musiknya yang membuat anda terkesan, lirik lagu-lagunya pun keren. Satu lagi album yang anda harus punya tahun ini. (pp)

Free! Magz April 20 ’11

 

 

 

 

 

 

 

Label : Somewhat Damaged

Band alternative rock New Zealand ini baru merilis album pertama mereka tahun lalu, setelah sempat merilis dua buah mini album di tahun 2008. Tak ketinggalan mereka juga memasukkan warna-warna musik lainnya seperti electropop dan shoegaze ke dalam lagu-lagunya. Sekilas menyimak The Naked And Famous akan membuat anda teringat pada perpaduan Blonde Redhead, Ladytron dan sedikit sentuhan industrial. Tidak salah jika akhir tahun lalu BBC memasukkan mereka ke dalam jajaran The Sound Of 2011. Keseluruhan album ini begitu menarik disimak, dengan warna yang saat ini tidak terlalu banyak anda temui pada band-band pendatang baru lainnya. Jika anda merindukan lagu-lagu bernuansa rock elektronik dengan perpaduan vokal pria dan wanita, maka album ini wajib dimiliki. (pp)

Free! Magz April 20 ’11

 

 

 

 

 

 

 

Label : Carpark Records

Musisi Chazwick Bundick memakai nama panggung Toro Y Moi yang artinya adalah “Bull And Me” dalam bahasa Inggris. Bundick yang berdarah Filipina dan Afrika-Amerika  ini adalah salah satu musisi yang mengusung musik chillwave dan telah merilis dua album. Ia juga menggabungkan synth pop dalam musiknya. Berisi banyak lagu menyenangkan dalam album keduanya ini,  Bundick menampilkan retro pop tahun 80’an dengan warna eklektik masa kini. Jangan bandingkan musiknya dengan Owl City, karena musik Toro Y Moi lebih dewasa, yang juga cocok dipakai sebagai soundtrack film-film independen bernuansa retro. Mendengarkan album ini pertama kali sedikit mengingatkan pada adegan-adegan film Virgin Suicides dengan soundtrack yang dihadirkan oleh duo Perancis Air. (pp)

Free! Magz March 16 ’11

 

 

 

 

 

 

 

Label : Polyvinyl

Album kelima band shoegaze Amerika dengan vokalis Yuki Chikudate ini dirilis pada hari Valentine yang lalu. Bila di album-album sebelumnya Asobi Seksu lebih menampilkan musik di atas vokal, maka album ini menghadirkan vokal Chikudate di atas musiknya. Meski pun masih sulit membedakan apakah ia menyanyi dalam bahasa Inggris atau Jepang yang kadang juga digabungkan, band ini masih menawarkan eksistensi yang ciamik dan musik yang bagus. Setelah musiknya juga tampil di berbagai serial televisi di antaranya Skins, The L Word dan Ugly Betty, Asobi Seksu seolah ingin melebarkan sayap dan memudahkan musiknya agar lebih bisa dinikmati oleh banyak pendengar.  Tak ketinggalan Deerhoof juga meremix sebuah lagu yang membuat Fluorescence semakin ciamik. (pp)

Free! Magz March 16 ’11

 

 

 

 

 

 

 

Label : Beady Eye Records

Untuk yang merindukan Oasis di era awal atau musik britpop era pertengahan tahun ‘90an mungkin akan terhibur dengan kehadiran Beady Eye. Dengan nama-nama seperti Liam Gallagher (vokal) dan Andy Bell (Ride), band rock baru dengan personil empat orang ini akan segera mencuri perhatian dengan sederetan lagu bagus bernafaskan britpop yang mereka tawarkan. Banyak juga pengamat musik yang berkomentar bahwa album ini mirip What’s The Story Morning Glory atau Definitely Maybe nya Oasis. Beady Eye memang lebih mirip Oasis era awal dibandingkan Oasis era menjelang bubarnya mereka. Mungkin ini pula yang membuat penggemar setia Oasis juga akan menyukai Beady Eye. Album yang keren, cukup untuk mengobati kerinduan pada Oasis. (pp)

Free! Magz March 16 ’11

 

 

 

 

 

 

 

Label : 4AD

Samuel Beam yang lebih dikenal lewat nama panggung Iron And Wine adalah musisi folk asal South Carolina yang sebelumnya pasti sudah anda kenali lewat Flightless Bird, American Mouth yang mendadak melejit saat menjadi soundtrack film Twilight. Atau mungkin karyanya yang lain  seperti Naked As We Came dan Such Great Heights milik Postal Service yang juga sempat menghiasi beberapa film dan serial televisi. Ia mencoba berevolusi lewat album ke empat dan berusaha tampil beda dari album-album sebelumnya. Seperti layaknya album Iron And Wine yang telah dirilis sebelumnya, album ini pun tidak hanya bisa dinikmati hanya sekali dengar saja. Anda harus menyimaknya berkali-kali meskipun anda terbiasa mendengarkan lagu-lagu yang tidak komersil. Kali ini Beam tidak menghadirkan warna-warna folk yang sepi dan muram dalam Kiss Each Other Clean. Ia mengatakan bahwa lagu-lagu dalam album ini sejenis dengan lagu-lagu dewasa yang turut didengarkan anak-anak kecil di dalam mobil orang tua mereka di tahun ‘70an. Not an easy album, but it gets better with every listen. (pp)

Free! Magz Feb 16 ’11

 

 

 

 

 

 

 

Label : Polyvinyl

Band experimental rock asal San Fransisco ini telah merajai scene musik independen sejak pertengahan tahun ‘90an. Deerhoof Vs Evil adalah album ke sepuluh mereka dengan formasi John Dieterich, Satomi Matsuzaki, Ed Rodriguez dan Greg Saunier. Masih bereksperimen mengawinkan indie rock dengan berbagai elemen bunyi-bunyian dan vokal yang unik, distorsi dalam sebagian instrumen bahkan vokal terdengar begitu unik di telinga, dan tidak semua band bisa melakukan hal itu dengan mudah untuk menjaga kenyamanan pendengarnya. Deerhoof adalah salah satunya yang dengan berani mengedepankan noise rock dengan hasil yang luar biasa mengejutkan. Not a bad surprise at all. Jika anda belum pernah menyimak seperti apa musik Deerhoof sebelumnya, maka album ini wajib anda simak untuk menambah warna dalam petualangan anda mendengarkan musik keren. (pp)

Free! Magz Feb 16 ’11

 

 

 

 

 

 

 

Label : Mercury

Band indie rock Kanada ini tak henti-hentinya unjuk gigi dan memepertahankan eksistensi di album ketiga. Dua personil Arcade Fire yaitu Win dan William Butler mengatakan bahwa lagu-lagu dan judul album ini terinspirasi dari pengalaman hidup mereka saat dibesarkan di daerah komunitas kota Houston, Amerika. Mereka juga mengatakan bahwa album ini memiliki sound perpaduan Depeche Mode dan Neil Young, meskipun hanya ada dua lagu yang berbau elektronik dan lainnya didominasi oleh warna folk dan rock. Lagi-lagi mereka berhasil membuktikan kesuksesan album ini dengan pujian dari berbagai media di Amerika dan Inggris, dan juga meraih kategori Album Of The Month oleh sebuah majalah musik di Inggris. Sehebat itukah album ini? Yang pasti anda tidak akan kecewa dengan jumlah lagu yang cukup banyak dalam album ini, ada 16 lagu yang bisa dinikmati dengan nada-nada menyenangkan untuk telinga anda yang sudah terbiasa dengan musik Arcade Fire. (pp)

Free! Magz Aug 18 ’10

 

 

 

 

 

 

 

Label : Island

Band indie pop asal New York ini awalnya tergabung dalam sebuah band bernama Elkland. Tahun lalu The Drums masuk ke dalam jajaran 15 besar dalam daftar BBC Sound Of 2010. Dengan referensi musik band-band besar seperti Joy Division dan The Smiths, juga band-band indie seperti The Tough Alliance dan The Legends, The Drums menghadirkan 12 lagu yang cukup easy listening untuk ukuran band indie seperti mereka. Awal tahun ini mereka berbagi panggung dengan The Big Pink, Maccabees dan Bombay Bicycle Club di NME Awards Tour, dan menjadi band pembuka Florence And The Machine dan Kings Of Leon. Album perdana ini bernuansa musim panas dan suasana pantai yang menyenangkan, apalagi jika anda sudah menyaksikan video klipnya, Let’s Go Surfing, di channel musik internasional. Album yang keren dan memuaskan dari sebuah band indie pendatang baru. (pp)

Free! Magz Aug 18 ’10

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.