Flavor Of The Month : Bloc Party

Image

 

“We’re all big fans of different sorts of music and that’s constantly changing so when you’re going to be creative, your voice as an artist stays the same. It’s the words and the colors and everything around that that changes as you change. There’s a complicated relationship.” (Kele Okoreke – Bloc Party)

Band Inggris ini telah lama ditunggu-tunggu kedatangannya ke Indonesia, yang akhirnya terwujud pada tanggal 20 Maret 2013 dengan konsernya di Jakarta.

Beragam genre yang dikategorikan orang untuk Bloc Party, mulai dari indie rock, post punk revival sampai alternative rock.

Band yang terdiri dari Kele Okoreke (vokal, gitar), Russell Lissack (gitar), Gordon Moakes (bass) dan Matt Tong (drum) ini, hampir dalam sepanjang sejarah karirnya disebut-sebut sebagai band indie karena musik yang mereka mainkan tidak komersil.

Menanggapi hal ini Okoreke berujar, “It’s a rock and roll show, you know? It’s an incredibly powerful medium, watching musicians play together on stage. Bloc Party is always going to be about that, musicianship and coming together from different places. Do I see us as an indie band? I guess it’s all about what you define as an indie band. Is it a band that produces music on an independent label? A band that looks indie? If I think of indie music, I don’t think of guitar these days.”

Bloc Party mengawali karirnya pada tahun 1998 saat Okoreke dan Lissack berjumpa di London saat masih duduk di sekolah menengah. Setahun kemudian mereka bertemu kembali secara kebetulan saat menyaksikan reading festival dan sejak itu mereka memutuskan untuk membuat sebuah band. Mereka memasang iklan lowongan untuk menjadi personil di NME dan juga sejumlah audisi, yang kemudian posisi bass dan drum diisi oleh Moakes dan Tong.

Awalnya nama Bloc Party belum terpikirkan oleh keempat personilnya, nama-nama yang semula diusulkan di antaranya Union, The Angel Range, dan Diet.

Baru pada tahun 2003 nama Bloc Party akhirnya resmi menjadi nama band mereka, dengan single pertama, The Marshals Are Dead, yang dimuat dalam sebuah kompilasi berjudul The New Cross, disusul dengan single berikutnya, She’s Hearing Voices. Kemudian Okoreke menyaksikan konser Franz Fedinand di tahun 2003 dan memberikan rekaman She’s Hearing Voices kepada sang vokalis, Alex Kapranos dan penyiar radio BBC 1 Steve Lamack. Publikasi pertama Bloc Party hadir ketika Lamack memperkenalkan She’s Hearing Voices di BBC 1 dan mengundang mereka untuk wawancara. Saat itulah nama Bloc Party mulai dikenal publik Inggris, yang kemudian membuat Wichita Records mengontrak mereka untuk masuk dapur rekaman dan merilis album pertama Silent Alarm.

Besar di Inggris, Bloc Party kemudian juga melebarkan sayap ke Amerika dan berhasil merebut perhatian penikmat musik Amerika.

Okoreke mengomentari Amerika sebagai “one of his wildest dreams”, ia mengatakan publik Amerika sangat responsif, dan penduduk kota yang mereka kunjungi memiliki sambutan positif yang berbeda-beda. Ia mengaku menyukai melakukan show di San Fransisco, New York dan Los Angeles, dimana penonton konser mereka menunjukkan antusiasme yang paling luar biasa di antara kota-kota lainnya di Amerika.

Album keempat mereka berjudul Four, mencerminkan karakter masing-masing empat orang personil yang tergabung di dalam Bloc Party, setelah menjalani hiatus selama empat tahun lamanya. Sebuah kurun waktu yang panjang untuk sebuah band yang namanya sudah bisa dikategorikan sebagai nama besar di industri musik indie, sementara saat Bloc Party absen, Okoreke merilis album solonya, The Boxer, dan melakukan promo tur albumnya sendiri dan hampir berpikiran untuk meninggalkan Bloc Party, sampai di tahun 2010 mereka kembali bertemu dan memutuskan untuk kembali produktif sebagai sebuah band.

Inspirasi Bloc Party dalam menulis lagu biasanya diambil dari pembicaraan sehari-hari yang dialami para personilnya dengan lingkungan sekitar. Seperti halnya pembicaraan Okoreke dengan anggota keluarga dan kekasihnya, juga dengan sesama personil band dan hal-hal yang dilihatnya sehari-hari, sesederhana matahari terbenam, atau film yang ditontonnya, dan buku-buku yang sedang dibacanya. Saat Bloc Party pertama kali muncul di tahun 2005 dengan album Silent Alarm, mereka memiliki sound yang terkesan betul-betul ‘baru’ dan sama sekali berbeda dengan band-band rock yang saat itu sedang mengisi panggung musik dunia. Awalnya inspirasi mereka datang dari duo elektronik pendatang baru asal Inggris, Disclosure, sebuah grup yang banyak didengarkan Okoreke saat pembuatan album Silent Alarm.

Salah satu musisi papan atas yang dikagumi Okoreke baik dari segi musik dan penulis lirik adalah Bjork, karena ia mampu mengekspresikan musiknya hanya lewat suaranya sendiri dimana banyak musisi lain tidak memiliki potensi yang sama untuk menyaingi keunikannya. Okoreke yang juga gemar mendengarkan musik neo soul menyebutkan Brandy sebagai salah satu musisi dari genre R&B/soul  yang digemarinya.

Menanggapi perselisihannya dengan personil Bloc Party yang lain di masa lalu, yang sempat membuat beredarnya kabar bahwa Bloc Party mencari calon vokalis baru untuk menggantikan dirinya, Okoreke mengatakan bahwa mungkin musisi yang bisa menjadi vokalis Bloc Party berikutnya adalah Old Dirty Bastard, lebih sebagai rapper dibandingkan sebagai penyanyi.

Visit them on blocparty.com and follow @BlocParty.

(pp)

*FMD March ’13*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: