Flavor Of The Month : The Raveonettes

Image

“I would say that we are more inspired by the ‘50s and the early ‘60s…like the Brill Building, The Marvelettes, The Ronettes and that whole scene and that kind of writing.”  – Sharin Foo (The Raveonettes)

Chain Gang Of Love, Pretty In Black, Lust Lust Lust, In And Out Of Control, Raven In The Grave. Deretan judul album yang mungkin tak asing lagi bagi anda yang mengikuti perjalanan karir duo The Raveonettes asal Denmark ini sejak tahun 2001.

Setelah merilis lima buah album yang bisa dikatakan sukses, mereka merilis album terbaru tahun ini yang lagi-lagi menjadi bahan perbincangan media di seluruh dunia. Album baru yang diberi judul Observator ini memiliki cerita menarik di balik pembuatannya, ketika gitaris Sune Rose Wagner melakukan perjalanan ke Venice Beach, dimana ia akhirnya mendapatkan inspirasi menulis lagu-lagu untuk album ini dari orang-orang yang ia temui secara tidak sengaja disana. Orang-orang ini memiliki kisah hidup yang berbeda-beda, kebanyakan juga memiliki kisah cinta yang tragis, yang membuat album Observator menjadi menarik dengan berbagai kisah kehidupan yang benar-benar nyata.  Wagner menghabiskan tiga hari untuk berkutat dengan minuman keras sementara ia menyelesaikan penulisan lagu-lagu untuk album ini. Ia mengatakan bahwa ia selalu bekerja seperti itu, ia mengubah kebiasaan minumnya sebagai salah satu sarana untuk menghasilkan karya yang sarat oleh kreativitas.

The Raveonettes awalnya berpikiran untuk membuat sebuah album dengan referensi dari The Doors, itulah yang membuat Wagner memutuskan untuk mengunjungi Venice Beach untuk mendapatkan ambience The Doors yang masih tersisa.

Kemudian Wagner hanya membutuhkan waktu tujuh hari untuk menulis dan merekam lagu-lagu dalam album Observator. Dalam hal ini Foo berpendapat, “Everything was overwhelming at that point, in terms of pulling the album together, but then we’re not a very hi fi band. We’re lo-fi, lots of reverb and atmosphere. The record is layered but it’s not like a Radiohead production (who I love) but we’re just a very different kind of band.  We get quite attached to all the little mistakes, we suffer from demo-itus, I think that’s what they call it, anyway?”

Observator secara bersamaan juga disebut-sebut sebagai hasil karya The Raveonettes untuk merayakan masa berdiri band ini yang telah berusia sepuluh tahun sejak dirilisnya album pertama mereka. Selama kurun waktu tersebut, banyak hal yang menjadi sorotan dari sisi internal band ini sendiri, seperti ketika Depeche Mode mengajak mereka untuk melakukan tur bersama, dan merupakan sebuah hal yang membanggakan bagi mereka untuk mengetahui bahwa Martin Gore adalah penggemar berat The Raveonettes, dan mereka berkesempatan untuk menyaksikan penampilan Depeche Mode di atas panggung setiap malam di saat tur. Kemunculan mereka di acara televisi seperti David Letterman Show juga merupakan sebuah prestasi dimana mereka beranggapan bahwa mereka hanyalah sebuah band indie dari negara kecil, namun mereka berhasil membuktikan bahwa sebuah band Denmark juga dapat mencuri perhatian jutaan pemirsa dii televisi Amerika. Wagner mengatakan dalam sepuluh tahun The Raveonettes telah banyak belajar melalui berbagai peristiwa yang terjadi di industri musik, bahwa dalam bisnis ini sangat penting bagi mereka untuk mengendalikan pekerjaan mereka sendiri dan tidak begitu saja mempercayakan karir mereka ke dalam sebuah manajemen, dan mereka memiliki kemampuan penuh untuk mendapatkan penghasilan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak bergantung pada kemampuan orang lain untuk mengatur bisnis mereka.

The Raveonettes dibentuk di Denmark pada tahun 2001, beranggotakan Sune Rose Wagner pada gitar dan vokal, dan Sharin Foo pada bass dan vokal. Berawal dengan mini album Whip It On yang mendapatkan penghargaan Danish Music Awards untuk kategori Best Rock Album Of The Year pada tahun 2003, duo ini kemudian produktif merilis album demi album berikutnya. Mereka  memutuskan untuk meninggalkan Copenhagen, Denmark, dan awalnya berdomisili di London, namun lebih banyak menghabiskan waktu di New York dan Los Angeles. Saat ini Wagner bermukim di east coast dan Foo berdomisili di west coast. Berkarir sebagai band di Amerika, menurut The Raveonettes, memiliki keuntungan tersendiri dibandingkan menjalani karir di Denmark, dimana kebanyakan penduduknya berpendidikan tinggi dan memiliki kehidupan yang baik namun ‘membosankan’, menurut pendapat mereka. Sementara mereka mendeskripsikan Amerika sebagai “It’s that thing that’s so great about the U.S. It’s not nice. It’s so ugly and greasy.” Namun scene musik yang hebat juga banyak datang dari negara ini, terutama dari kota-kota besar seperti New York dan Los Angeles, sehingga itulah yang awalnya menyebabkan The Raveonettes lebih banyak tinggal di Amerika dibandingkan di London setelah mereka meninggalkan Denmark.

The Raveonettes memiliki deretan band dan musisi masa kini dan legendaris yang menjadi favorit mereka, di antaranya Beach House, James Blake, Grizzly Bear, Dum Dum Girls, Buddy Holy, The Everly Brothers dan tentunya The Velvet Underground yang menjadi awal inspirasi mereka.

Ketika ditanya apa yang akan dilakukan The Raveonettes dalam kurun waktu sepuluh tahun mendatang, Foo mewakili dengan mengatakan besar kemungkinan mereka masih akan berkarir di dunia musik, masih begitu banyak inspirasi yang ingin mereka dapatkan untuk menghasilkan album-album yang akan diapresiasi oleh penggemar setia mereka, dan mereka juga masih ingin merangkul lebih banyak pendengar lagi.

Visit them on www.theraveonettes.com or follow them @theraveonettes.

(pp)

*FMD October ’12*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: