Flavor Of The Month : The xx

Image

“…trying to win people over with new songs is so nerve-wrecking.”

–       Oliver Sim (The xx)

Salah satu band indie yang tengah naik daun saat ini adalah trio The xx. Berasal dari London, awalnya The xx terbentuk dengan formasi dua personil yaitu Oliver Sim dan Romy Madley Croft saat mereka masih berusia lima belas tahun. Formasi ini kemudian bertambah dengan masuknya gitaris Baria Qureshi di tahun 2005 dan Jamie Smith yang menyusul setahun setelahnya.

Mereka merilis debut album berjudul xx pada tahun 2009 yang mendapat perhatian dari media seluruh dunia, termasuk di antaranya menjadi salah satu kandidat dalam daftar Best Of The Year versi beberapa majalah musik internasional ternama, dengan single-single andalan seperti Islands, VCR, Crystalised, dan Shelter.

Baria Qureshi memutuskan untuk mengundurkan diri setelah peluncuran album pertama, namun hal ini tidak menghentikan tiga personil The xx lainnya untuk terus berkarya. Album kedua The xx yang berjudul Coexist dirilis pada bulan September 2012, dengan proses rekaman yang memakan waktu enam bulan saja.

Dengan tiket konser seharga $250 yang habis terjual di sebuah tempat berkapasitas 3000 orang di New York bulan Agustus lalu, sepertinya The xx berhasil membuktikan bahwa ditinggalkan salah satu personil bukanlah penghalang dalam karir band mereka.

Seperti yang dikatakan Romy Madley Croft, vokalis dan gitaris The xx, reaksi dan apresiasi penonton konser mereka sungguh luar biasa dengan menyanyikan penggalan lirik lagu-lagu The xx, sementara mereka sebenarnya tidak membuat lagu-lagu yang sing along. Hal itu semakin memotivasi mereka untuk bertahan pada pilihan genre dan musik yang mereka mainkan, bahwa musik non mainstream tetap bisa mendapatkan tempat di hati banyak orang.

Memainkan musik indie bukan berarti The xx tidak menunjukkan kepedulian terhadap musik mainstream, mereka mengagumi bahwa musik pop mainstream saat ini juga memiliki kualitas yang besar dan sisi emosional tersendiri, seperti yang dilakukan Adele pada hits-hitsnya. Mereka juga beropini bahwa kebanyakan orang di masa kini cenderung lebih menyukai kesedihan yang tercermin dalam lagu-lagu hits balada yang mereka dengarkan. Sementara untuk musik mainstream yang sudah melegenda, The xx memilih Sade sebagai salah satu referensi musisi yang mereka simak.

Berbicara tentang Coexist, album kedua yang saat ini sedang menjadi pembicaraan pemerhati musik di seluruh dunia, The xx berpendapat awalnya ada sedikit kesalah pahaman tentang konsep album ini dengan pemikiran banyak orang. Ketika Jamie Smith mengatakan bahwa album Coexist terinspirasi dari dance music, banyak orang berasumsi album ini memiliki beat seperti album-album bergenre elektronika atau bahkan house, namun pada kenyataannya album kedua mereka sama sekali bukan album dance. Kekuatan album ini terletak pada musik yang minimalis, dengan bunyi-bunyian indie pop dan elektronik di dalamnya.

Salah satu kunci kesuksesan di awal kemunculan The xx yang telah memenangkan Mercury Music Prize Awards adalah menjauh dari internet. Setelah album pertama mereka dirilis, mereka menghindari komentar media dan pendengar yang bisa mereka temukan di internet. Awalnya mereka membaca review album The xx yang beredar di internet, namun lama kelamaan Romy Madley Croft khususnya, menyadari bahwa ia dapat menjadi terlalu sensitif untuk menerima begitu saja semua tulisan di media yang mengulas album The xx. Mereka baru menyadari bahwa The xx telah mencapai tingkat kesuksesan tertentu setelah berbagai show yang mereka adakan tidak pernah sepi dan mereka berkali-kali diajak manggung untuk mendukung show-show band indie lainnya, dan penonton konser mereka mulai turut menyanyikan lagu-lagu mereka, sampai hal ini kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.

Sebuah peristiwa paling mengesankan untuk The xx terjadi saat mereka manggung di Coachella Festival untuk pertama kalinya, dimana biasanya mereka hanya manggung untuk 100 atau 200 orang di berbagai tempat kecil di pelosok Amerika, namun saat itu mereka harus bermain di hadapan 30.000 penonton, dimana mereka melihat Beyonce dan Jay-z  turut menyaksikan penampilan mereka, sementara Beyonce adalah salah satu artis favorit mereka.

Trio The xx mengawali karir di industri musik di saat mereka bertiga masih sangat muda, Oliver Sim dan Romy Madley Croft menulis lagu-lagu di album pertama mereka saat mereka masih berusia lima belas tahun, dan mereka awalnya bukan orang-orang yang lahir untuk menghadapi ketenaran yang tiba-tiba, bukan pula orang-orang yang lahir untuk menghadirkan aksi panggung yang luar biasa, dan juga bukan orang-orang yang bisa berbicara non stop tentang pencapaian karir mereka dalam The xx. Awalnya tidak mudah bagi mereka untuk menyesuaikan karakter masing-masing dengan reaksi penonton yang mengharapkan mereka untuk berkomunikasi lebih sering di atas panggung. Namun saat ini mereka menyadari bahwa dengan bertambahnya usia, mereka berusaha semakin bijaksana dan lebih terbuka terhadap apa pun yang diharapkan oleh para penggemar The xx terhadap mereka.

Referensi musik The xx cukup beragam, Romy Madley Croft terinspirasi dari sebuah band bernama Chromatics, sebuah band indie elektronik asal Portland, Oregon yang telah berdiri sejak tahun 2001. Ia mengatakan album pertama The xx banyak mendapat pengaruh dari Chromatics yang pada saat itu ia simak tanpa henti. Sedangkan untuk album kedua The xx juga mendapatkan referensi dari Little Dragon. Mereka memiliki line up impian yang ingin mereka saksikan dalam sebuah festival musik, di antaranya Beach House, Chromatics, Little Dragon, Grimes, Frank Ocean, dan Beyonce.

Impian mereka yang lain adalah menulis lagu untuk artis-artis mainstream. Seperti yang dikatakan Madley Croft, “We’ve all been open to the idea of writing for other people and for pop stars. That’s something I’d love to do. It could be a bit more freeing. I do love brash pop music. It’s fun.”

Visit them on http://thexx.info/

(pp)

*FMD October ’12*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: