Archive

Monthly Archives: September 2013

Image

“If you’re in a band, you never want to be under one specific label. Because while we love rock music, we love R&B and every style of jazz, too. When you think of music you don’t want to think of one style. On my iTunes I erased all those styles (genres). I’d see – rock, rock, rock – and I can’t connect with that.” – Thomas Mars (Phoenix)

Setelah sukses dengan empat buah album, band alternative rock asal Perancis ini hadir kembali lewat album terbaru di tahun 2013 berjudul Bankrupt, yang dirilis 22 April 2013.

Seperti yang dituturkan vokalis Thomas Mars yang juga dikenal sebagai suami sutradara Sofia Coppola, kebanyakan band tidak ingin dikategorikan dalam suatu genre tertentu. Ia mengatakan bahwa jika ia ingin mendengarkan musik rock maka ia akan menyimak The Black Crowes, namun setelah itu ia akan teringat pada musik Otis Redding karena The Black Crowes banyak mendapatkan pengaruh dari musisi legendaris tersebut, sedangkan genre Otis Redding bukanlah rock. Hal itu membuat Mars percaya bahwa genre dan gaya bermusik bukan sesuatu yang baku, yang bisa diimplementasikan dari band satu ke band lainnya.

Phoenix pertama kali dikenal lewat hits mereka dari album If I Ever Feel Better dan Too Young, yang kedua turut menghiasi soundtrack film Lost In Translataion yang disutradarai Sofia Coppola. Kedua lagu ini ada di album United yang dirilis pada tahun 2000. Empat tahun kemudian (masa yang cukup panjang untuk merilis album kedua) mereka merilis album Alphabetical dengan hits Everything Is Everything dan Run Run Run. Setelah melakukan promo tur ke seluruh dunia sejumlah 150 jadwal, Phoenix merangkum perjalanan mereka di atas panggung dengan merilis sebuah album live berjudul Live! Thirty Days Ago pada tahun 2005, yang dirilis hanya dalam waktu sebulan setelah mereka menyelesaikan tur. Setahun kemudian album It’s Never Been Like That dirilis dengan hits andalan Long Distance Call. Sebelum merilis album berikutnya, Phoenix terlibat dalam proyek kompilasi Kitsune Tabloid, sebuah album kompilasi yang dirilis label rekaman musik elektronik dan fashion Perancis Kitsune, memuat musik dari nama-nama kenamaan seperti Elvis Costello, Roxy Music, Kiss dan Lou Reed.

Pada tahun 2009 album Wolfgang Amadeus Phoenix dirilis. Judul album ini terinspirasi dari sebuah buku berjudul Mozart In The Jungle, yang digabungkan dengan berbagai hal yang disukai Phoenix sebagai sebuah band. Album ini diproduseri Phillipe Zdar (Cassius). Album yang menampilkan hits-hits seperti 1901, Lisztomania, Girlfriend, Armistice, Lasso, dan Fences, berhasil meraih Grammy Awards untuk kategori Best Alternative Music Albums, disusul dengan 1901 yang duduk di posisi juara Billboard Hot Alternative Songs.

Dalam proses pembuatan album Bankrupt, Phoenix menyatakan bahwa album terbaru mereka memiliki nuansa berbeda dengan album-album sebelumnya, mereka berusaha membuat sesuatu yang eksperimental dan menanggalkan warna pop seperti yang ada di dalam album Wolfgang Amadeus Phoenix. Daniel Glass, pendiri Glassnote Records, label tempat Phoenix bernanung, mengatakan bahwa album baru mereka mungkin akan sulit menyaingi Wolfgang Amadeus Phoenix, namun Bankrupt bisa menjadi sebuah revolusi dalam sejarah album-album yang pernah dilahirkan Phoenix. 

(pp)

*FMD March ’13*

Advertisements

Image

“Honestly, we’re very nerdy guys. We really didn’t have anything going on in our lives. We wanted to have a unique thing figured out before we could tell other people what it was. I remember writing different albums everybody had to listen to and study because we were inspired by them.”  (Dan Reynolds – Imagine Dragons)

Billboard menyebut Imagine Dragons sebagai salah satu dari “2012’S Brightest New Stars” dan situs Amazon menyebut mereka sebagai “Favorite Rock Artist Of 2012”.

Berawal di tahun 2008 ketika Dan Reynolds, sang vokalis, membentuk Imagine Dragons saat ia kuliah di Brigham Young University. Band yang berasal dari Las Vegas ini disebut-sebut sebagai band yang memiliki lirik positif, musik yang membangkitkan mood dan menghindari kata-kata buruk dalam lirik lagu mereka.

Sebelum Imagine Dragons mendapatkan kontrak rekaman dengan Interscope Records di tahun 2011, mereka telah lebih dulu merilis tiga buah mini album berjudul Imagine Dragons, Hell And Science, dan It’s Time.

Setelah mendapatkan kontrak rekaman, sebuah mini album berjudul Continued Silence dirilis secara digital pada hari Valentine 2012 dan tiba-tiba berhasil menduduki peringkat ke 40 di Billboard 200.

Kemudian album pertama mereka, Night Visions dirilis, dan single It’s Time melejit ke posisi kelima di Billboard Alternative dan Billboard Rock Charts, dan ketika video klip mereka muncul di MTV, Imagine Dragons menjadi aikon MTV Push Artist Of The Week.

Disusul dengan kesuksesan It’s Time yang mendapatkan penghargaan sertifikat platinum oleh RIAA dan video klipnya dinominasikan di MTV Video Music Award untuk kategori Best Rock Video.

Dengan prestasi yang bertubi-tubi untuk sebuah band indie pendatang baru, mungkin tak ada yang mengira bahwa band ini dulu sempat bermain di atas panggung sebuah bar kumuh di Las Vegas dengan lima orang penonton saja.

Reynolds mengakui keluarganya sangat suportif terhadap dirinya sementara saudara-saudaranya yang lain sukses menjalani karir sebagai dokter dan pengacara, namun dirinya mengundurkan diri dari universitas tempat ia belajar untuk membentuk sebuah band. Menyadari pentingnya keluarga dalam kehidupannya, di awal kesuksesan Imagine Dragons, Reynolds masih menyempatkan diri untuk meluangkan waktu bersama keluarganya di kala ia harus melakukan perjalanan promo tur album bandnya dan setiap hari bangun di kota yang berbeda.

Sebelum Reynolds memutuskan untuk menjadi vokalis Imagine Dragons, dirinya telah mencoba beberapa posisi sebagai personil. Ia mulai sebagai drummer, yang sebelumnya mencoba belajar memainkan perkusi dan merekam segala sesuatu dengan komputer. Semuanya dimulai saat ia berusia 14 tahun dimana ia hanya memiliki sebuah microphone dan berusaha mempelajari beat boxing.

Ketika Imagine Dragons akhirnya masuk studio rekaman, bunyi-bunyian yang mereka namakan “organic percussion” kemudian menjadi ciri khas mereka.

Reynolds mengatakan kadang mereka membutuhkan sepuluh jenis suara yang berbeda untuk mendapatkan sebuah suara yang mereka anggap tepat. “There’s one sound where it’s one clap, and very light, and fingers on your palm , it gives you a little bit of a pop.” ujar Reynolds.

Dalam sebuah lagu berjudul On Top Of The World yang ada di dalam album Night Visions, begitu banyak snapping yang terdengar.

“It’s funny how much your body can be an instrument. I was always inspired by Bobby McFerrin.”

Tentunya tidak semua lagu dalam album Night Visions memiliki bunyi-bunyian yang tidak lazim seperti snap atau clap, namun untuk sebuah band pendatang baru yang namanya mulai disejajarkan dengan band-band seperti Maroon 5, .fun bahkan Coldplay, Imagine Dragons jelas memiliki jalur dan style musik yang berbeda.

Night Visions berhasil terjual sebanyak 83.000 keping di minggu pertama dirilisnya dan duduk di peringkat kedua Billboard 200.

Setelah sukses dengan It’s Time, single berikutnya yang dilempar ke pasaran adalah Radioactive, yang lagi-lagi berhasil duduk di peringkat atas, kali ini peringkat kedua di chart Billboard Alternative Songs.

Night Visions diproduseri oleh produser hip hop Inggris Alex Da Kid dan Brandon Darner, personil band indie rock Amerika, The Envy Corps. Musik yang disuguhkan Imagine Dragons dalam album ini sebagian besar memang memiliki akar di alternative rock dan indie rock, namun ternyata juga mendapatkan pengaruh dari berbagai genre lainnya seperti dubstep, folk, hip hop dan pop.

Imagine Dragons juga memiliki publikasi yang bagus dengan bermain di show-show televisi terkenal di Amerika seperti The Tonight Show With Jay Leno, Jimmy Kimmel Live, Late Night With Jimmy Fallon, Conan dan The Late Show With David Letterman. It’s Time bahkan kemudian dibawakan ulang oleh Darren Criss untuk serial televisi Glee.

Sementara lagu-lagu dari EP mereka dipakai sebagai trailer untuk film-film Hollywood seperti The Perks Of Being A Wallflower, The Words, dan The Host.

Tentu saja berbagai festival musik telah menanti mereka, sebut saja di antaranya T In The Park, Lollapalooza, dan Isle Of Wight.

Visit them on www.imaginedragonsmusic.com and follow @Imaginedragons.

(pp)

*FMD March ’13*

1. Overexposed

Maroon 5

Image

Album keempat Maroon 5 ini menghasilkan hits-hits populer yang sudah tidak asing lagi seperti Moves Like Jagger, Payphone, One More Night, dan sederetan single berikutnya diramalkan segera menyusul untuk menjadi hits di seluruh dunia. Hits-hits tersebut secara bergantian duduk di peringkat teratas Billboard Hot 100, sementara album Overexposed sendiri sempat duduk di peringkat kedua di jajaran Billboard 200.

 

2. Wild Ones

Flo Rida

Image

Dikenal sebagai pencetak summer hits, Flo Rida kembali menghasilkan hits-hits yang berkumandang secara terus menerus selama musim panas bahkan sampai musim-musim setelahnya, seperti Good Feeling, Wild Ones, Whistle dan I Cry. Album ini telah duduk di peringkat teratas di US Billboard Dance/Electronic Albums, dan juga populer di Inggris, Australia, Kanada, Perancis dan Jerman. 

 

3. Unapologetic

Rihanna

Image

Proses rekaman album ini mengambil waktu di antara saat-saat Rihanna masih mempromosikan album Talk That Talk yang menghasilkan hits We Found Love dan Where Have You Been. Setelah hits Diamonds yang saat ini masih menduduki peringkat teratas di Billboard Hot 100 menggantikan Maroon 5 dengan One More Night, album Unapologetic juga menghadirkan deretan hits berikutnya yang merupakan kolaborasi Rihanna dengan David Guetta, Eminem, dan tentunya Chris Brown.

 

4. Until Now

Swedish House Mafia

Image

Menyambung kesuksesan album pertama mereka di tahun 2010 yaitu Until One, dan dua single yang menjadi hits di arena dance music seperti Save The World dan yang terbaru Don’t You Worry Child,  trio DJ dan produser Swedish House Mafia hadir kembali lewat album kedua, Until Now. Dalam album ini Swedish House Mafia menggandeng Ryan Tedder, Tinie Tempah, Laidback Luke, Miike Snow, Steve Aoki dan Coldplay.

Promo tur album Until Now berlangsung mulai November 2012 sampai Maret 2013 sebelum mereka memasuki masa hiatus. 

 

5. Electra Heart

Marina And The Diamonds

Image

Di negara asalnya yaitu Inggris, Marina & The Diamonds yang merupakan nama panggung Marina Lambrini Diamandis ini cukup digemari. Terbukti dengan terjualnya album ini sebanyak 60.000 keping di Inggris dan menjadi nomor satu di UK Albums Chart. Sementara di Amerika, Electra Heart sempat duduk di peringkat kedua di Billboard Dance/Electronic Albums.

 

6. Beacon

Two Door Cinema Club

Image

Album Beacon memuaskan kerinduan penggemarnya terhadap babak selanjutnya dari album Tourist History dua tahun lalu. Dibandingkan dengan album pertamanya, Beacon adalah album yang sama bagusnya dengan Tourist History, sebuah prestasi yang tidak begitu saja dapat dengan mudah dimiliki oleh band indie yang terhitung masih baru. Album ini duduk di peringkat pertama di Irish Albums Chart dan Irish Indie Albums Chart, dan peringkat kedua di UK Albums Chart.

 

7. Coexist

The xx

Image

 

Di Inggris, Coexist telah duduk di peringkat pertama, dengan hasil penjualan sebanyak lebih dari 58.000 keping di minggu pertama album ini dirilis. Dari segi musikalitas, Coexist banyak mendapat pengaruh dari electronic dance music, tentunya dengan dark Chicago house music yang pada saat proses pembuatan album ini sedang sering disimak oleh Jamie XX, sang produser. Album ini duduk di peringkat kelima US Billboard 200 dan peringkat pertama di Inggris, Swiss, Belgia, New Zealand dan Portugal.

 

8. Gossamer

Passion Pit

Image

Album kedua dari band electro pop Amerika ini masih bermain di genre yang sama seperti album pertama mereka, yaitu electro pop dan synth pop. Sempat duduk di peringkat kelima di US Billboard 200, Gossamer juga berhasil duduk di peringkat kedua di US Alternative Albums dan US Rock Albums, serta terjual sebanyak 37.000 keping, yang merupakan hasil penjualan terbaik sepanjang karir mereka.

 

9. Happy To You

Miike Snow

Image

Setelah tampil eklektik di album pertama, Happy To You adalah sebuah come back yang menyenangkan setelah melewati jeda waktu tiga tahun sejak album pertama dirilis. Jika album pertama akrab dengan nuansa elektronik, maka di album kedua Miike Snow hadir dengan lagu-lagu yang lebih banyak bernuansa indie pop, ditambah warna-warna perpaduan Tahiti 80, Vampire Weekend dan Foster The People. Mereka juga mengajak Lykke Li untuk berkolaborasi dengan mereka untuk sebuah single berjudul Paddling Out. Meskipun harus cukup puas di peringkat ke 31 di UK Albums Chart, album ini berhasil duduk di peringkat teratas di Belgian Heatseekers Albums Chart.

 

10. Observator

The Raveonettes

Image

Raveonettes mungkin adalah salah satu band indie rock yang produktif, dengan merilis enam buah album dan lima mini album sepanjang sejarah karir mereka yang dimulai pada tahun 2001 sampai saat ini. Observator mendapatkan banyak ulasan positif dari berbagai media di Amerika, dan mengalami evolusi yang membawa band ini selangkah lebih maju jika dibandingkan dengan Raven In The Grave, album mereka sebelumnya. 

(pp)

*Free! Magz Dec’ 12*

Image

Our Name Is Fun is the name of our website because “fun” is the most impossible thing to Google search.” (Fun)

Kadang sebuah band tidak perlu memiliki nama yang unik atau aneh untuk menduduki peringkat atas tangga lagu bergengsi yang masih dijadikan standar mancanegara seperti Billboard. Cukup dengan nama Fun. (dengan titik di belakangnya), band ini mampu menggugah dunia dengan hitsnya, We Are Young, yang merupakan kolaborasi mereka dengan Janelle Monae.

Pendiri band asal New York ini adalah Nate Ruess, sang vokalis, setelah band lamanya, The Format, bubar di tahun 2008, ia menggandeng Jack Antonoff dari band Steel Train dan Andrew Dost dari band Anathallo untuk membentuk Fun. Diawali dengan album pertama mereka Aim And Ignite, trio ini kemudian mulai terlibat dalam tur-tur band besar seperti Paramore dan Panic! At The Disco dan menjadi aksi pembuka.

Ketika Some Nights, album kedua yang menelurkan hits We Are Young dirilis pada bulan Februari 2012, Fun. telah menjadi sorotan dunia, dengan vokal Ruess yang sering kali dibanding-bandingkan dengan Freddy Mercury atau Jake Shears dari Scissor Sisters.

Menanggapi tentang overnight stardom di saat We Are Young duduk di peringkat juara Billboard Hot 100, Ruess mengatakan hal itu sungguh tak disangka-sangka, setelah sepuluh tahun bergelut di industri musik dan merasa tahu banyak tentang apa yang terjadi di dalamnya, ternyata mereka tak lebih bagaikan anak-anak kecil yang dulunya hanya bisa bermimpi punya sebuah hits yang duduk di posisi nomor satu tangga lagu dunia.

Fun. tak punya target muluk pada awalnya. Mereka hanya berharap orang-orang menyadari eksistensi musik mereka, tak jadi masalah apakah hanya ada 100 orang atau 1000 orang yang menyaksikan aksi panggung mereka, yang penting pesan yang diperdengarkan lewat musik mereka sampai ke pendengar dengan respon positif.

Memiliki sebuah hits yang tiba-tiba mendunia hanya dalam periode waktu relatif singkat, tentunya ada banyak perubahan yang terjadi di dalam hidup para personil Fun.  Hal ini terutama dirasakan oleh Nate Ruess, sang frontman. Begitu banyak orang dari masa lalunya yang ia bahkan tidak ingat, atau orang-orang yang tak dikenalnya, tiba-tiba seolah berebut ingin menghubunginya atau menjalin kerja sama dengannya.

Sebuah pernyataan dari Ruess yang mungkin membuat banyak orang mengira ia sombong dan anti sosial, bahwa pada dasarnya ia tidak menyukai bicara dengan siapa pun. Ia merasa tidak pernah memiliki teman sebelum Fun. terkenal, ia dan bandnya hanya memiliki penggemar, namun bukanlah teman.

Mengenai nama band yang begitu sederhana, Fun. berhasil membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu harus datang dari sesuatu yang unik, namun bisa juga dari sebuah ide sederhana. Sesederhana mereka hanya ingin cepat dikenali di saat orang meng -google kata “fun”. Tentu saja untuk saat ini, link mengenai mereka yang pertama tampil di layar komputer saat anda mengetik kata “fun” di google.

Album Some Nights diproduseri Jeff Bhasker, yang sebelumnya dikenal sebagai orang yang menggarap album artis-artis seperti Jay-z, Kanye West, Beyonce, Alicia Keys, Bruno Mars, sampai Lana Del Rey.  Ruess memutuskan untuk mengajak Bhasker menjadi produser album Fun. di saat ia menyimak album My Beautiful Dark Twisted Fantasy dan 808 Heartbreak milik Kanye West. Ia juga mendengarkan album Alicia Keys, The Element of Freedom, dan menemukan bahwa album-album itu juga diproduseri oleh nama yang sama. Ruess mengawali kolaborasi mereka dengan menyanyikan sepenggal lirik We Are Young yang diperdengarkannya pertama kali di hadapan Bhasker, yang membuat produser handal ini seketika menyetujui untuk menggarapnya.

Ruess mengaku dunia Fun. jauh dari obat-obatan terlarang, bahkan kerabat dekat mereka pun tidak ada yang menggunakan narkoba, meskipun ada sepenggal lirik dalam We Are Young yang seolah mendeskripsikan hedonisme “My friends are in the bathroom getting higher than the Empire State”.

Dibanding-bandingkan dengan kesuksesan Foster The People yang juga melejit lewat Pumped Up Kicks ,yang akhirnya juga menjadi hits komersil, Ruess tak keberatan dengan julukan indie crossover untuk Fun. Industri musik di tahun 2000-an tidaklah seperti tahun ‘90an dimana band indie hanya memiliki penggemar dan komunitas tersendiri, dan tidak bisa dinikmati oleh pendengar komersil. Saat ini band indie sudah punya harapan untuk digemari penikmat musik mainstream dikarenakan banyaknya pendengar radio yang cepat jenuh oleh musik pop yang itu-itu saja, sehingga hal itu membuka kesempatan bagi band-band indie dengan hits yang juga ‘easy listening’ untuk lebih dikenal dunia. Like Fun.

Visit their website : http://www.ournameisfun.com/

Follow them on twitter : @ournameisfun

(pp)

*FMD June’12*

Image

“..Maybe albums these days are more a collection of singles and the technology allows you to just pick and choose what you like and ignore what you don’t.” (Van She)

Mungkin anda adalah salah satu dari sekian banyak penonton yang telah menyaksikan live performance Van She di Dimensions Playground 5th Jakarta beberapa saat lalu.

Bernaung di bawah label Modular Recordings, dengan artis-artis seperti Cut Copy, New Young Pony Club, Tame Impala, Wolfmother, dan masih banyak lagi, Van She adalah salah satu band electro pop Australia yang telah meramaikan industri musik indie sejak tahun 2005.

Saat ini formasi mereka adalah Matt Van Schie (bass/vocal), Tomek Archer (drums), Michael Di Francesco (synth/guitar), dan Nick Routledge (guitar/vocal).

Berawal sebagai band pembuka untuk Yeah Yeah Yeahs dan New Young Pony Club, dan berbagi panggung dengan Phoenix, Bloc Party dan Daft Punk, Van She merilis album pertama di tahun 2008 berjudul V, yang duduk di peringkat ke sepuluh dalam deretan Australian Recording Industry Association (ARIA) album chart. Album ini menelurkan hits berjudul Kelly dan Strangers, yang diproduksi oleh Jim Abiss, yang sebelumnya juga sempat menggarap album Arctic Monkeys, Placebo, dan Massive Attack.

Album kedua Van She dirilis 10 Juli 2012 dengan judul Idea Of Happiness, kali ini mereka cukup berani memproduseri sendiri album ini dengan proses rekaman yang dilakukan di sebuah studio di Kings Cross, Sydney, Australia. Untuk proses mixing mereka menyerahkannya pada Tony Hoffer di Los Angeles, yang pernah bekerja sama dengan M83, Phoenix, Depeche Mode, Goldfrapp dan The Temper Trap.

Sementara itu single Idea Of Happiness sendiri telah diremix oleh beberapa produser, salah satunya produser Perancis SebastiAn, yang bisa didengarkan di FM Web Radio.

Tak hanya bermusik dalam format band, Van She juga piawai dalam meremix single artis-artis lain, seperti 1234 (Feist), Walking On A Dream (Empire Of The Sun), Around The World (Daft Punk), Gravity’s Rainbow (Klaxons) dan masih banyak lagi single  lainnya yang menjadi semakin keren karena sentuhan warna band Australia ini. Saat tampil dalam format DJ set, nama panggung mereka adalah Van She Tech, yang terdiri dari Nick dan Michael.

Berbicara tentang pengalaman dalam tur, drummer Van She, Tomek Archer, mengatakan bahwa seperti kebanyakan band lainnya, tingkat stress yang tinggi juga dirasakan Van She saat menjalani tur demi tur. Mereka menghabiskan waktu tanpa harus mengerjakan apa pun selama berjam-jam, setelah itu tiba saatnya mereka harus tampil intens di atas panggung selama satu jam, dan pada saat itu mungkin mereka sudah kelelahan karena terlalu banyak minum sebelumnya, sehingga mengalami dehidrasi yang akhirnya menyebabkan stress secara fisik, bukan secara mental.

Dalam hal music download, menanggapi eksistensi album dalam peran mendownload single dari iTunes, Van She berkomentar “If you go onto iTunes and only buy a couple of episodes of a particular season of The Wire for example, you’re not getting the entire story, then maybe albums these days are more a collection of singles and the technology allows you to just pick and choose what you like and ignore what you don’t, so it goes both ways.”

Para personil Van She beranjak remaja mendengarkan lagu-lagu dari berbagai genre dan artis, seperti Michael Jackson, Icehouse, INXS, Daryl Hall & John Oates sampai Olivia Newton John dan lagu-lagu dari era ‘70an. Referensi ini juga memberi pengaruh besar dalam style mereka meremix single milik artis lain.

Proses remix ini biasanya mereka lakukan setelah pihak artis atau label rekaman menghubungi Van She dan meminta mereka untuk meremix single artis tersebut. Mereka akan mendengarkan dulu versi original dari single itu, dan jika ada bagian yang mereka sukai atau mereka pikir bisa ambil bagian di dalamnya, maka biasanya mereka akan menerima tawaran untuk meremix single itu. Namun sering kali prosesnya tidak sesederhana itu, karena kadang mereka harus membuat beberapa versi remix sebelum akhirnya puas dengan hasil akhir sesuai yang diinginkan.

Meskipun mereka telah begitu dikenal di Australia, namun masing-masing personil Van She tidak merasa diri mereka selebritis terkenal. Mereka mengkategorikan diri mereka F grade celeb. Mereka belum pernah mendapatkan apa pun secara gratis hanya karena nama Van She yang melekat dalam status mereka. Untuk bisa menonton konser atau pun gigs, mereka masih mengandalkan seseorang yang mereka kenal dalam show tersebut, dan tetap tidak bisa masuk begitu saja dengan gratis.

Van She juga memiliki kebiasaan unik, mereka tak malu mengakui mereka juga gemar memakai brand jeans Tsubi  untuk wanita sebagai salah satu pilihan fashion mereka.

Find out more of them on www.vanshe.com

Follow them on twitter : @VanShe

(pp)

*FMD June ’12*

Image

“Doesn’t it sound like fun? We wanted our name to reflect our musical ambitions: Keep it sexy and not too pretentious. Or you could say “young and dumb.”

The Virgins (Jangan tertukar dengan band Indonesia. This one is with an S.) mengawali karir mereka di New York pada tahun 2006, saat ini formasi mereka adalah Donald Cumming (vocal/guitar), Max Kamins (bass), Xan Aird (guitar), dan John Eatherly (drums).

Setelah menjadi band pembuka untuk beberapa band seperti  Iggy Pop And The Stooges, Lou Reed, dan Sonic Youth, mereka memiliki hits Rich Girls yang menjadi soundtrack serial Gossip Girl, yang merupakan awal The Virgins mulai dikenal kalangan yang lebih mainstream. Terlebih saat Rich Girls masuk ke dalam daftar 100 Best Songs Of 2008 versi majalah Rolling Stone, nama mereka mulai diperhitungkan di industri musik indie. Video klipnya sendiri masih dapat anda saksikan di YouTube dengan salah satu model Victoria’s Secret, Behati Prinsloo.

Di tahun yang sama The Virgins merilis album pertama, mereka beruntung mendapatkan kontrak rekaman dengan Atlantic Records selaku major label.

Eksistensi mereka semakin terbukti dengan keikut sertaan mereka di berbagai festival musik seperti Glastonbury, Leeds, Reading, Lollapalooza dan SXSW.

Tahun ini mereka merilis single baru berjudul Venus In Chains, dengan cover art yang sangat kontroversial untuk singlenya, anda bisa melihatnya sendiri di internet.

The Virgins menganggap kesuksesan mereka berawal dari jam terbang berbagai show yang telah mereka jalani. Di tahun 2008 setelah merilis album pertama, mereka melakukan rangkaian tur melelahkan di Amerika dan Eropa. Sang vokalis Donald Cumming harus berjuang dari bawah untuk akhirnya bisa sampai pada titik kesuksesan yang diraihnya bersama The Virgins. Di usia enam belas tahun ia meninggalkan rumah orang tuanya dan hidup di jalanan kota New York, menumpang tinggal di rumah beberapa teman, dan saat remaja ia tidak memiliki tempat tinggal yang pasti. Saat dewasa ia membuat musik sendiri dan merekruit teman-temannya untuk bergabung dalam sebuah band yang mereka beri nama The Virgins.

Karena suka duka yang ia jalani saat usia remaja, Cumming menulis single Rich Girls, berdasarkan pengalamannya di kota besar seperti New York dimana orang-orang yang ia temui berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, dan pada akhirnya uang bukanlah segalanya bagi Cumming dan teman-teman seperjuangannya. Mereka hanya harus menemukan jalan untuk bertahan hidup dengan bekerja dan melakukan hal-hal yang mereka sukai.

Meski bermain di genre indie rock, The Virgins tak lepas dari pengaruh musik lama yang menjadi inspirasi Cumming, di antaranya Chuck Berry, Buddy Holly dan musik Amerika lainnya.

Pengalaman dengan fans paling berkesan untuk The Virgins, adalah saat mereka mengadakan tur pertama di North Carolina, sekumpulan remaja datang menyaksikan show mereka, lalu seusai show para remaja ini mengajak mereka berpesta di sebuah gudang kosong, dan di tempat ini ternyata telah menunggu ratusan remaja lain yang siap menyambut The Virgins dan memberikan kenang-kenangan berupa kostum unik, mainan-mainan dan mixtape. Hal ini sungguh merupakan kejutan bagi The Virgins karena pada saat itu mereka masih benar-benar baru di komunitas musik indie dan mereka tidak yakin bahwa orang sebanyak itu telah mendengarkan musik mereka.

Mereka juga meluruskan kabar miring yang sempat beredar di banyak majalah internasional bahwa hanya native New Yorker yang diterima untuk menjadi personil The Virgins. Kebetulan saja para personil The Virgins lahir dan besar di Manhattan sehingga banyak media yang menyimpulkan bahwa hanya New Yorker yang bisa menjadi personil mereka.

Di saat tur, kegiatan The Virgins mungkin tak jauh berbeda dengan band-band kebanyakan, mereka banyak membaca dan bermain musik, juga menulis lagu-lagu untuk persiapan album berikutnya. Di saat mereka tidak berkegiatan dalam tur, mereka masih meluangkan waktu untuk latihan di studio setiap hari, menyaksikan video konser-konser lama, atau mempromosikan musik mereka.

Pada awal berdirinya The Virgins, mereka sering kali dibanding-bandingkan dengan band-band lain karena musik mereka, mulai dari Velvet Underground, Duran Duran sampai Maroon 5. Yang terakhir disebutkan sebenarnya musiknya sama sekali berbeda dengan The Virgins, namun entah mengapa mereka juga dibanding-bandingkan dengan Maroon 5.

Sebagai sesama band dari New York, The Virgins menyukai musik Yeah Yeah Yeahs, The Ramones, The Velvet Underground, sampai Run DMC dan Wu Tang Clan.

Follow them on twitter @thevirginsband

(pp)

*FMD June ’12*

Image

“You have to understand, record labels don’t invest in people who are unknown. Do you know what A&R guys say to people now? ‘Come back to me when you’ve sold 1 million units.’ “

–       Lana Del Rey

Sesosok wanita cantik yang memilih nama panggung Lana Del Rey ini tiba-tiba melejit di penghujung tahun 2011 dan dibicarakan begitu banyak kalangan yang merajai semua industri, baik musik, film maupun fashion.

Apa yang membuat dirinya terdengar begitu istimewa?

Terlahir dengan nama Elizabeth Woolridge Grant, 21 Juni 1986 di Lake Placid, New York, Del Rey adalah putri seorang investor, Robert Grant. Datang dari keluarga berada, ia sempat dipandang sebelah mata oleh kalangan penikmat musik independen karena dianggap mengandalkan kekayaan ayahnya untuk melejitkan karirnya.

Tak banyak yang tahu Del Rey telah merintis karirnya di industri musik sejak tahun 2008, dengan mini album berjudul Kill Kill, disusul albumnya di tahun 2010 dengan judul Lana Del Ray aka Lizzy Grant.

Pada awal karirnya, Del Rey memakai nama panggung Lizzy Grant.

Tahun 2011 adalah awal kejayaan baginya ketika ia mengubah nama panggungnya menjadi Lana Del Rey dan menanda tangani kontrak rekaman dengan Interscope Records dan Polydor, kemudian merilis album Born To Die, yang sedang hangat dibicarakan penikmat musik dan media.

Del Rey mendeskripsikan musiknya sebagai Hollywood Sadcore, didukung oleh video klip yang membangkitkan nostalgia akan hal-hal yang menjadi kebanggaan Amerika seperti Marylin Monroe, Frank Sinatra, dan olah raga selancar.

Deretan musisi dan band legendaris yang menjadi inspirasi Del Rey di antaranya Nirvana, Leonard Cohen, The Beach Boys, Bob Dylan dan Nina Simone.

Namun jangan heran ketika ia juga memasukkan nama Britney Spears ke dalam deretan artis yang menjadi referensinya.

Dengan sound retro tahun ‘60an dan video klip yang membuat publik Amerika mulai mengagung-agungkan dirinya, Del Rey yakin melangkah dengan deretan hits seperti Video Games, Born To Die dan Blue Jeans.

Sebagai artis pendatang baru, boleh dikatakan ia cukup rendah hati. Ia mengaku dekat dengan para penggemarnya, dan tak keberatan menjadi teman mereka yang sesekali mau meluangkan waktu untuk jamuan makan malam bersama.

Mungkin saja jika anda suatu hari berada di tengah lalu lalang orang di jalanan New York, anda akan berpapasan dengan Lana Del Rey yang masih merasa nyaman melakukan segala sesuatunya seorang diri tanpa dikawal bodyguard atau asisten.

Terhadap komentar publik mengenai peran sang ayah dalam karirnya, Del Rey menekankan bahwa banyak orang berasumsi keluarganya sedemikian berada sehingga ia tidak perlu bersusah payah meraih kesuksesan di dunia musik. Banyak hal telah ia lalui dalam perjalanannya mencapai sukses tanpa bantuan ayahnya.

Ketika ditanya seperti apa lagu-lagu lainnya dalam album Born To Die, Del Rey mengatakan, “The concept of almost every song on the record is a dark love story seen through hopeful eyes. It’s also about my troubled love affairs.”

Catch her on twitter : @lanadelrey

(pp)

*FMD April ’12*