Image

Personally, I don’t view myself as sounding like a woman. I think I just have a soft quality to my voice, and then people immediately associate that with something extremely feminine.”Mike Milosh (Rhye)

Awalnya para kritikus musik bertanya-tanya siapakah suara di balik nama Rhye yang membawakan lagu-lagu indie elektronik dengan vokal yang sangat feminin dan sering kali dibanding-bandingkan dengan gaya bernyanyi Sade Adu.

Rhye tiba-tiba hadir mewarnai blog musik indie dengan lagu-lagu mereka yang diunggah tanpa menyertakan bio apa pun tentang diri mereka. Banyak yang mengira Rhye adalah solois wanita pendatang baru. Namun tak lama kemudian Ryhe memperkenalkan diri mereka secara resmi di media sebagai duo Mike Milosh dan Robin Hannibal, warga Kanada yang berdomisili di Los Angeles.

Rhye awalnya memutuskan untuk tidak mengungkapkan siapa diri mereka ketika mempublikasikan musik mereka lewat internet, dengan alasan mereka tidak menyukai apa yang tengah terjadi di industri musik saat ini, yang semuanya hanya berkisar seputar image, yang datang dari sekumpulan orang yang seharusnya berkutat di dunia fashion saja dan tidak mengeksplorasi musik dengan cara yang selalu harus dikaitkan dengan fashion atau gaya hidup yang sedang menjadi tren saat itu. Mereka tidak ingin orang menyukai musik mereka karena gaya berpakaian mereka, atau gaya hidup mereka. Rhye hanya ingin digemari karena orang memang menyukai musik mereka. If you like it, you like it. If you don’t, you don’t.

Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa dengan menampilkan diri mereka sebagai “anonymous” atau tak ingin dikenali pada awalnya, membuat hal itu menjadi tren baru di industri musik indie.

Rhye mengawali karir mereka dengan merilis sebuah EP berjudul The Fall pada tahun 2013, dimana Milosh baru saja bertemu dengan seorang wanita yang kemudian menjadi istrinya tak lama sebelum ia berkolaborasi dengan Hannibal. Milosh mengatakan di dalam sebuah awal hubungan romantis, semua ide yang datang dan dituangkannya dalam lagu-lagu, datang dari pengalaman bersama kekasihnya, maka bukan suatu hal yang mengherankan jika lagu-lagu Rhye terkesan seksi dan sangat ‘intim’.  Sementara secara kebetulan, Hannibal juga baru saja bertemu seorang wanita yang membuatnya memutuskan untuk pindah ke Los Angeles dan memulai hidup baru. Baik Milosh dan Hannibal sedang menjalani tahap jatuh cinta saat mereka menggarap album pertama yang diberi judul Woman, yang kemudian didistribusikan oleh label rekaman besar Polydor.

Berkomentar tentang single mereka yang berjudul Open, yang tak diragukan lagi merupakan salah satu single paling seksi yang ada di album Woman, Milosh berdalih bahwa lagu itu dibuat setelah ia melewatkan satu malam bersama sang kekasih yang saat ini telah menjadi istrinya.

Disebut-sebut sebagai “the sounds of seduction”, Rhye tidak segan beropini bahwa seks di masa kini telah dieksploitasi sebagai tema, terutama di era musik modern, yang banyak terdengar di genre pop dan rap selama ini. Rhye berusaha menampilkan tema ini bukan sebagai bentuk eksploitasi, melainkan sebagai bentuk kekaguman mereka terhadap cinta dan penghargaan mereka terhadap wanita.

Album Woman disebut-sebut sebagai album yang memadukan musik digital funk ala Junior Boys, lounge pop ala Stereolab dan soul dengan vokal ala Sade. Inspirasi Rhye datang dari beragam genre, mereka menyimak semua genre musik Afrika Amerika yang memilik nuansa funk, rhythm and blues, disco, jazz, blues, dan juga era pop 80-an seperti  David Bowie dan Blondie.  Tak ketinggalan nama-nama seperti Beethoven, Bach, Led Zeppelin, Pink Floyd, A Tribe Called Quest, Crosby Stills & Nash, sampai duo elektronik Authechre yang menjadi inspirasi mereka. Yang terakhir disebutkan adalah grup yang membuat Milosh memutuskan untuk membeli synthsizers dan samplers dan kemudian membuat lagu-lagu sendiri. Sementara genre metal dan punk tidak menjadi pilihan referensinya.

Milosh juga sempat mengalami masa-masa dimana ia tergila-gila pada Marvin Gaye dan menyimak seluruh koleksinya.

Untuk musik masa kini, Milosh berkomentar musisi-musisi yang aktif di industri musik saat ini sering kali terjebak dalam tren semata, seperti musisi-musisi R&B yang akhirnya selalu menggabungkan musik mereka dengan dubstep hanya karena genre itu yang saat ini sedang banyak digemari dan dianggap sebagai tren.

Milosh juga mengatakan bahwa ia belum berpikir untuk mendaur ulang lagu lama, ia belum tertarik untuk menyanyikan lagu orang lain karena ia tidak menulis sendiri liriknya, sehingga ia tidak mengetahui dengan pasti apa yang dimaksud si penulis lagu di balik lirik yang dinyanyikannya. Ia mengatakan, “There’s a huge vacancy in music today when it comes to that. People just write stuff because they think it’s catchy, or they write stuff because the lyric is clever or they want to sing a love song because they think it will sell. The only thing I can control is what I put out there, so if I’m going to put something out there, it has to be something that I’m very comfortable with and I feel very authentic about.”

Get to know them more on www.rhyemusic.com or follow @Rhyemusic.

(pp)

*FMD July ’13*

Image

Performing solo was… well, I didn’t really enjoy it. I found it quite difficult, it just wasn’t very exciting. I wanted to work with other people because I had a bigger sound in my head that was not achievable with just the one guitar.” – Elena Tonra (Daughter)

Trio indie folk asal London ini telah meramaikan industri musik sejak tahun 2010, dengan formasi Elena Tonra (vokal), Igor Haefeli (gitar) dan Remi Aguillela (drums).

Awalnya Daughter adalah proyek solo Tonra, yang kemudian berubah pikiran dengan menggandeng Haefeli dan Aguillea untuk membentuk sebuah band.

Mereka bertemu saat menuntut ilmu di Institute Of Contemporary Music Performance di London. EP pertama Daughter yang berjudul His Young Heart dirilis secara independen pada tahun 2011 setelah keberadaan mereka mulai dikenal dari mulut ke mulut. Di tahun yang sama Daughter kembali merilis EP berikutnya yaitu The Wild Youth, yang membuat mereka disebut-sebut sebagai “one of the most unique sounds in the pop landscape today” oleh sebuah situs musik Inggris, For Folk’s Sake.

Pada tahun berikutnya, Daughter mulai naik ke atas panggung dan bermain di Asembly Hall, North London, sebuah gedung berkapasitas tujuh ratus orang penonton, dan untuk pertama kalinya mempublikasikan bahwa mereka telah dikontrak oleh label rekaman Inggris 4AD.

Di bulan Oktober 2012, single pertama mereka di bawah label rekaman 4AD berjudul Smother dirilis. BBC 1 dan 6Music mulai memainkan lagu mereka dan Smother kemudian dipublikasikan sebagai Single Of The Week oleh Huw Stephens, seorang penyiar BBC 1 yang telah lama menjadi penggemar mereka.

Album pertama Daughter yaitu If You Leave, dirilis pada bulan Maret 2013, masih di bawah bendera 4AD, yang dengan segera menduduki peringkat keempat di jajaran album chart indie di Irlandia, dan peringkat ke enam belas UK Albums Chart.

Pengalaman mereka di panggung pun mulai beragam, mulai dari panggung dengan skala kecil sampai panggung festival dengan jumlah penonton ribuan.

Ditanya tentang perbedaan manggung di festival musik dan manggung di show Daughters sendiri, Tonra mengatakan memang rasanya selalu lebih aman bermain di dalam show mereka sendiri, karena mereka berharap mereka akan disaksikan oleh penonton yang memadati gedung tempat mereka manggung, sedangkan di saat bermain di panggung festival, mereka hanya bisa menebak-nebak siapa saja yang datang menyaksikan mereka karena line-up artist yang beragam dan keren-keren, dan pengunjung festival memiliki banyak pilihan untuk menyaksikan sekian banyak band bagus yang juga tampil disitu. Namun saat mereka manggung di Reading Festival, mereka tidak banyak berharap bahwa mereka akan disaksikan banyak orang, dan ketika ternyata penampilan mereka mengundang perhatian banyak sekali pengunjung, mereka menganggap hal itu adalah kejutan menyenangkan yang sebelumnya tidak mereka bayangkan.

Menanggapi komentar orang yang membanding-bandingkan musik Daughter dengan musisi atau band folk lainnya, Tonra menegaskan Daughter hanya ingin berkreasi membuat musik yang bagus, yang memiliki banyak elemen di dalamnya, yang tidak hanya memiliki warna folk namun juga banyak warna lainnya yang membuat genre mereka tidak hanya sekedar dikategorikan sebagai indie folk. Perbandingan yang diciptakan orang terhadap musik Daughter dengan musik band lainnya dianggap sah-sah saja oleh mereka, bahwa setiap band akan berusaha membuat musik yang unik dan keren dengan berbagai referensi yang juga keren, sehingga terkesan begitu banyak band yang menghadirkan nafas dan warna musik yang mirip. Hal ini tidak membuat mereka terganggu, karena mereka menyadari bahwa banyak orang gemar mengkotak-kotakkan musik.

Daughter hadir kembali secara mengejutkan, ketika Daft Punk merilis album Random Access Memories dan memperkenalkan single terbaru mereka, Get Lucky, ke seluruh dunia.

Daughter mendaur ulang Get Lucky dengan versi yang sama sekali berbeda, mengubahnya menjadi sebuah balada chill out tanpa menanggalkan warna elektronik yang kali ini dibuat lebih trippy. Single Get Lucky yang didaur ulang oleh Daughter dipublikasikan April 27 2013, satu hari sebelum versi aslinya yang dibawakan Daft Punk menduduki peringkat juara di tangga lagu dunia, hanya dalam selang waktu 48 jam setelah album Random Access Memories dijual.

Hal ini tentu saja mengejutkan para pemerhati musik indie dan segera menghiasi situs-situs musik di seluruh dunia.

Saat ini Daughter tengah kembali bereksperimen dengan sound yang semakin berevolusi, mereka sedang mempersiapkan lagu-lagu untuk album berikutnya, yang diharapkan akan memiliki nuansa baru dan berbeda dengan album If You Leave.

Read more about them on www.ohdaughter.com and follow @ohdaughter

(pp)

*FMD July ’13*

Image

“…trying to win people over with new songs is so nerve-wrecking.”

–       Oliver Sim (The xx)

Salah satu band indie yang tengah naik daun saat ini adalah trio The xx. Berasal dari London, awalnya The xx terbentuk dengan formasi dua personil yaitu Oliver Sim dan Romy Madley Croft saat mereka masih berusia lima belas tahun. Formasi ini kemudian bertambah dengan masuknya gitaris Baria Qureshi di tahun 2005 dan Jamie Smith yang menyusul setahun setelahnya.

Mereka merilis debut album berjudul xx pada tahun 2009 yang mendapat perhatian dari media seluruh dunia, termasuk di antaranya menjadi salah satu kandidat dalam daftar Best Of The Year versi beberapa majalah musik internasional ternama, dengan single-single andalan seperti Islands, VCR, Crystalised, dan Shelter.

Baria Qureshi memutuskan untuk mengundurkan diri setelah peluncuran album pertama, namun hal ini tidak menghentikan tiga personil The xx lainnya untuk terus berkarya. Album kedua The xx yang berjudul Coexist dirilis pada bulan September 2012, dengan proses rekaman yang memakan waktu enam bulan saja.

Dengan tiket konser seharga $250 yang habis terjual di sebuah tempat berkapasitas 3000 orang di New York bulan Agustus lalu, sepertinya The xx berhasil membuktikan bahwa ditinggalkan salah satu personil bukanlah penghalang dalam karir band mereka.

Seperti yang dikatakan Romy Madley Croft, vokalis dan gitaris The xx, reaksi dan apresiasi penonton konser mereka sungguh luar biasa dengan menyanyikan penggalan lirik lagu-lagu The xx, sementara mereka sebenarnya tidak membuat lagu-lagu yang sing along. Hal itu semakin memotivasi mereka untuk bertahan pada pilihan genre dan musik yang mereka mainkan, bahwa musik non mainstream tetap bisa mendapatkan tempat di hati banyak orang.

Memainkan musik indie bukan berarti The xx tidak menunjukkan kepedulian terhadap musik mainstream, mereka mengagumi bahwa musik pop mainstream saat ini juga memiliki kualitas yang besar dan sisi emosional tersendiri, seperti yang dilakukan Adele pada hits-hitsnya. Mereka juga beropini bahwa kebanyakan orang di masa kini cenderung lebih menyukai kesedihan yang tercermin dalam lagu-lagu hits balada yang mereka dengarkan. Sementara untuk musik mainstream yang sudah melegenda, The xx memilih Sade sebagai salah satu referensi musisi yang mereka simak.

Berbicara tentang Coexist, album kedua yang saat ini sedang menjadi pembicaraan pemerhati musik di seluruh dunia, The xx berpendapat awalnya ada sedikit kesalah pahaman tentang konsep album ini dengan pemikiran banyak orang. Ketika Jamie Smith mengatakan bahwa album Coexist terinspirasi dari dance music, banyak orang berasumsi album ini memiliki beat seperti album-album bergenre elektronika atau bahkan house, namun pada kenyataannya album kedua mereka sama sekali bukan album dance. Kekuatan album ini terletak pada musik yang minimalis, dengan bunyi-bunyian indie pop dan elektronik di dalamnya.

Salah satu kunci kesuksesan di awal kemunculan The xx yang telah memenangkan Mercury Music Prize Awards adalah menjauh dari internet. Setelah album pertama mereka dirilis, mereka menghindari komentar media dan pendengar yang bisa mereka temukan di internet. Awalnya mereka membaca review album The xx yang beredar di internet, namun lama kelamaan Romy Madley Croft khususnya, menyadari bahwa ia dapat menjadi terlalu sensitif untuk menerima begitu saja semua tulisan di media yang mengulas album The xx. Mereka baru menyadari bahwa The xx telah mencapai tingkat kesuksesan tertentu setelah berbagai show yang mereka adakan tidak pernah sepi dan mereka berkali-kali diajak manggung untuk mendukung show-show band indie lainnya, dan penonton konser mereka mulai turut menyanyikan lagu-lagu mereka, sampai hal ini kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.

Sebuah peristiwa paling mengesankan untuk The xx terjadi saat mereka manggung di Coachella Festival untuk pertama kalinya, dimana biasanya mereka hanya manggung untuk 100 atau 200 orang di berbagai tempat kecil di pelosok Amerika, namun saat itu mereka harus bermain di hadapan 30.000 penonton, dimana mereka melihat Beyonce dan Jay-z  turut menyaksikan penampilan mereka, sementara Beyonce adalah salah satu artis favorit mereka.

Trio The xx mengawali karir di industri musik di saat mereka bertiga masih sangat muda, Oliver Sim dan Romy Madley Croft menulis lagu-lagu di album pertama mereka saat mereka masih berusia lima belas tahun, dan mereka awalnya bukan orang-orang yang lahir untuk menghadapi ketenaran yang tiba-tiba, bukan pula orang-orang yang lahir untuk menghadirkan aksi panggung yang luar biasa, dan juga bukan orang-orang yang bisa berbicara non stop tentang pencapaian karir mereka dalam The xx. Awalnya tidak mudah bagi mereka untuk menyesuaikan karakter masing-masing dengan reaksi penonton yang mengharapkan mereka untuk berkomunikasi lebih sering di atas panggung. Namun saat ini mereka menyadari bahwa dengan bertambahnya usia, mereka berusaha semakin bijaksana dan lebih terbuka terhadap apa pun yang diharapkan oleh para penggemar The xx terhadap mereka.

Referensi musik The xx cukup beragam, Romy Madley Croft terinspirasi dari sebuah band bernama Chromatics, sebuah band indie elektronik asal Portland, Oregon yang telah berdiri sejak tahun 2001. Ia mengatakan album pertama The xx banyak mendapat pengaruh dari Chromatics yang pada saat itu ia simak tanpa henti. Sedangkan untuk album kedua The xx juga mendapatkan referensi dari Little Dragon. Mereka memiliki line up impian yang ingin mereka saksikan dalam sebuah festival musik, di antaranya Beach House, Chromatics, Little Dragon, Grimes, Frank Ocean, dan Beyonce.

Impian mereka yang lain adalah menulis lagu untuk artis-artis mainstream. Seperti yang dikatakan Madley Croft, “We’ve all been open to the idea of writing for other people and for pop stars. That’s something I’d love to do. It could be a bit more freeing. I do love brash pop music. It’s fun.”

Visit them on http://thexx.info/

(pp)

*FMD October ’12*

Image

“I would say that we are more inspired by the ‘50s and the early ‘60s…like the Brill Building, The Marvelettes, The Ronettes and that whole scene and that kind of writing.”  – Sharin Foo (The Raveonettes)

Chain Gang Of Love, Pretty In Black, Lust Lust Lust, In And Out Of Control, Raven In The Grave. Deretan judul album yang mungkin tak asing lagi bagi anda yang mengikuti perjalanan karir duo The Raveonettes asal Denmark ini sejak tahun 2001.

Setelah merilis lima buah album yang bisa dikatakan sukses, mereka merilis album terbaru tahun ini yang lagi-lagi menjadi bahan perbincangan media di seluruh dunia. Album baru yang diberi judul Observator ini memiliki cerita menarik di balik pembuatannya, ketika gitaris Sune Rose Wagner melakukan perjalanan ke Venice Beach, dimana ia akhirnya mendapatkan inspirasi menulis lagu-lagu untuk album ini dari orang-orang yang ia temui secara tidak sengaja disana. Orang-orang ini memiliki kisah hidup yang berbeda-beda, kebanyakan juga memiliki kisah cinta yang tragis, yang membuat album Observator menjadi menarik dengan berbagai kisah kehidupan yang benar-benar nyata.  Wagner menghabiskan tiga hari untuk berkutat dengan minuman keras sementara ia menyelesaikan penulisan lagu-lagu untuk album ini. Ia mengatakan bahwa ia selalu bekerja seperti itu, ia mengubah kebiasaan minumnya sebagai salah satu sarana untuk menghasilkan karya yang sarat oleh kreativitas.

The Raveonettes awalnya berpikiran untuk membuat sebuah album dengan referensi dari The Doors, itulah yang membuat Wagner memutuskan untuk mengunjungi Venice Beach untuk mendapatkan ambience The Doors yang masih tersisa.

Kemudian Wagner hanya membutuhkan waktu tujuh hari untuk menulis dan merekam lagu-lagu dalam album Observator. Dalam hal ini Foo berpendapat, “Everything was overwhelming at that point, in terms of pulling the album together, but then we’re not a very hi fi band. We’re lo-fi, lots of reverb and atmosphere. The record is layered but it’s not like a Radiohead production (who I love) but we’re just a very different kind of band.  We get quite attached to all the little mistakes, we suffer from demo-itus, I think that’s what they call it, anyway?”

Observator secara bersamaan juga disebut-sebut sebagai hasil karya The Raveonettes untuk merayakan masa berdiri band ini yang telah berusia sepuluh tahun sejak dirilisnya album pertama mereka. Selama kurun waktu tersebut, banyak hal yang menjadi sorotan dari sisi internal band ini sendiri, seperti ketika Depeche Mode mengajak mereka untuk melakukan tur bersama, dan merupakan sebuah hal yang membanggakan bagi mereka untuk mengetahui bahwa Martin Gore adalah penggemar berat The Raveonettes, dan mereka berkesempatan untuk menyaksikan penampilan Depeche Mode di atas panggung setiap malam di saat tur. Kemunculan mereka di acara televisi seperti David Letterman Show juga merupakan sebuah prestasi dimana mereka beranggapan bahwa mereka hanyalah sebuah band indie dari negara kecil, namun mereka berhasil membuktikan bahwa sebuah band Denmark juga dapat mencuri perhatian jutaan pemirsa dii televisi Amerika. Wagner mengatakan dalam sepuluh tahun The Raveonettes telah banyak belajar melalui berbagai peristiwa yang terjadi di industri musik, bahwa dalam bisnis ini sangat penting bagi mereka untuk mengendalikan pekerjaan mereka sendiri dan tidak begitu saja mempercayakan karir mereka ke dalam sebuah manajemen, dan mereka memiliki kemampuan penuh untuk mendapatkan penghasilan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak bergantung pada kemampuan orang lain untuk mengatur bisnis mereka.

The Raveonettes dibentuk di Denmark pada tahun 2001, beranggotakan Sune Rose Wagner pada gitar dan vokal, dan Sharin Foo pada bass dan vokal. Berawal dengan mini album Whip It On yang mendapatkan penghargaan Danish Music Awards untuk kategori Best Rock Album Of The Year pada tahun 2003, duo ini kemudian produktif merilis album demi album berikutnya. Mereka  memutuskan untuk meninggalkan Copenhagen, Denmark, dan awalnya berdomisili di London, namun lebih banyak menghabiskan waktu di New York dan Los Angeles. Saat ini Wagner bermukim di east coast dan Foo berdomisili di west coast. Berkarir sebagai band di Amerika, menurut The Raveonettes, memiliki keuntungan tersendiri dibandingkan menjalani karir di Denmark, dimana kebanyakan penduduknya berpendidikan tinggi dan memiliki kehidupan yang baik namun ‘membosankan’, menurut pendapat mereka. Sementara mereka mendeskripsikan Amerika sebagai “It’s that thing that’s so great about the U.S. It’s not nice. It’s so ugly and greasy.” Namun scene musik yang hebat juga banyak datang dari negara ini, terutama dari kota-kota besar seperti New York dan Los Angeles, sehingga itulah yang awalnya menyebabkan The Raveonettes lebih banyak tinggal di Amerika dibandingkan di London setelah mereka meninggalkan Denmark.

The Raveonettes memiliki deretan band dan musisi masa kini dan legendaris yang menjadi favorit mereka, di antaranya Beach House, James Blake, Grizzly Bear, Dum Dum Girls, Buddy Holy, The Everly Brothers dan tentunya The Velvet Underground yang menjadi awal inspirasi mereka.

Ketika ditanya apa yang akan dilakukan The Raveonettes dalam kurun waktu sepuluh tahun mendatang, Foo mewakili dengan mengatakan besar kemungkinan mereka masih akan berkarir di dunia musik, masih begitu banyak inspirasi yang ingin mereka dapatkan untuk menghasilkan album-album yang akan diapresiasi oleh penggemar setia mereka, dan mereka juga masih ingin merangkul lebih banyak pendengar lagi.

Visit them on www.theraveonettes.com or follow them @theraveonettes.

(pp)

*FMD October ’12*

Image

“Some of the most innovative music comes out of New Zealand, perhaps because we are so isolated and have something to prove to the world.” – Kimbra

Somebody That I Used To Know adalah hits yang tentunya sudah tak asing lagi di telinga, hasil kolaborasi musisi Belgia-Australia Gotye dengan artis pendatang baru asal New Zealand, Kimbra Lee Johnson.

Pertemuan Kimbra dengan Gotye untuk pertama kalinya diawali lewat sebuah perkenalan oleh Francois Tetaz, produser yang menggarap album keduanya. Kimbra begitu menggemari karya-karya Gotye sehingga Tetaz kemudian memperkenalkan dirinya kepada musisi yang boleh dikatakan juga masih baru ini. Selama bertahun-tahun Gotye dan Kimbra tidak berhubungan, sampai suatu hari Gotye menghubunginya dan mengajaknya untuk berkolaborasi dalam sebuah lagunya yang di kemudian hari menjadi hits besar dan sempat menduduki peringkat pertama di Billboard Hot 100.

Sebelum berkolaborasi dengan Gotye, Kimbra telah menjalani karir solonya dengan merilis album perdana berjudul Vows pada bulan Agustus 2011. Referensi musik Kimbra dalam pembuatan album ini beragam, mulai dari Prince, Michael Jackson, Minnie Riperton, Stevie Wonder sampai Nine Inch Nails dan Rufus Wainwright, produser Jepang Cornelius. Sementara itu ia juga melakukan tur dengan Gotye dan Foster The People sebagai artis pembuka dalam rangkaian tur mereka.

Perjalanan Kimbra di dunia musik diawali di usia yang sangat muda, pada usia tiga belas tahun ia telah mulai belajar gitar dan menulis lagu-lagunya sendiri. Orang tuanya berprofesi sebagai dokter dan perawat, yang menggemari James Taylor, Pink Floyd dan Genesis, yang akhirnya juga menjadi musik yang ia dengarkan saat ia kecil.

Awalnya ia tidak berpikiran bahwa dirinya akan menjadi musisi saat dewasa nanti, sehingga ia mengesampingkan cita-cita untuk menjadi penyanyi dengan menjalani studinya secara formal. Ketika ia tengah mempersiapkan diri untuk memasuki universitas, ia mendapat tawaran dari salah satu sahabatnya untuk menjadi manajernya, dan mendukungnya untuk berkarir di dunia musik. Saat itulah Kimbra memutuskan untuk menyelesaikan rekaman album solo pertamanya dan hijrah ke Australia di usia tujuh belas tahun untuk memulai karirnya sebagai musisi.

Video klip Somebody That I Used To Know mendapat banyak respon positif dan komentar yang mengatakan bahwa konsepnya keren dan berseni. Menanggapi hal ini Kimbra mengatakan, video klip tersebut adalah salah satu pengalamannya yang gila dan menyenangkan. Sebelum membuat video klip Somebody That I Used To Know bersama Gotye, Kimbra telah lebih dulu melakukan body painting untuk sampul album solo pertamanya, sehingga itu bukan merupakan pengalaman baru dan asing bagi dirinya. Namun untuk berdiri di depan kamera dalam keadaan telanjang dengan seluruh tubuh dilukis, dan ia harus melakukannya di hadapan orang-orang yang baru ia temui, adalah sebuah pengalaman lain yang harus ia hadapi. Ketika lagu itu menjadi hits di seluruh dunia, Kimbra berkomentar, “It’s pretty crazy. I only started to realize how big the song is in the last six months because I’ve been so busy and so has Gotye. It’s not like we go online and check where it’s at every day. It’s more people telling us. You kind of get this feeling of, ‘Wow, this is really taking off’.” Puncaknya adalah saat mereka membawakan lagu tersebut di Coachella Festival dan ia tidak bisa mendengar suaranya sendiri ketika menyanyikannya, karena penonton turut bernyanyi dengan kerasnya, saat itulah Kimbra merasa bahwa kolaborasinya dengan Gotye benar-benar telah menghasilkan sesuatu yang besar.

Proses rekaman album solo pertama Kimbra melibatkan banyak peristiwa unik, salah satunya ketika Francois Tetaz, produsernya, terkadang menanyakan benda-benda apa yang dibawa Kimbra dalam tas tangannya setiap kali hendak rekaman. Lalu Kimbra akan menunjukkan peralatan riasnya, bahkan asthma inhaler, yang kemudian digunakan sebagai sound effect dalam lagu-lagunya. Itulah yang membuat album Kimbra, Vows, sarat oleh bunyi-bunyian unik selain permainan instrumen yang tidak lazim digunakan musisi-musisi kebanyakan di masa kini. Album ini menghasilkan tiga buah hits berjudul Settle Down, Cameo Lover dan Good Intent.

Kimbra mengharapkan suatu hari nanti ia dapat bekerja sama dengan salah satu sutradara film yang akan menyertakan karyanya dalam sebuah film layar lebar. Ia mengagumi Lars Von Trier dengan hasil arahannya, Dancer In The Dark yang dibintangi Bjork dengan lagu-lagu yang juga dinyanyikannya. Ia juga ingin berkolaborasi dengan Michael Gondry yang terkenal lewat salah satu filmnya, Eternal Sunshine Of The Spotless Mind, juga arahannya dalam berbagai video klip Bjork, Daft Punk dan Beck.

Visit her on www.kimbramusic.com or follow @kimbramusic. 

(pp)

*FMD October ’12*

Image

 

“We’re all big fans of different sorts of music and that’s constantly changing so when you’re going to be creative, your voice as an artist stays the same. It’s the words and the colors and everything around that that changes as you change. There’s a complicated relationship.” (Kele Okoreke – Bloc Party)

Band Inggris ini telah lama ditunggu-tunggu kedatangannya ke Indonesia, yang akhirnya terwujud pada tanggal 20 Maret 2013 dengan konsernya di Jakarta.

Beragam genre yang dikategorikan orang untuk Bloc Party, mulai dari indie rock, post punk revival sampai alternative rock.

Band yang terdiri dari Kele Okoreke (vokal, gitar), Russell Lissack (gitar), Gordon Moakes (bass) dan Matt Tong (drum) ini, hampir dalam sepanjang sejarah karirnya disebut-sebut sebagai band indie karena musik yang mereka mainkan tidak komersil.

Menanggapi hal ini Okoreke berujar, “It’s a rock and roll show, you know? It’s an incredibly powerful medium, watching musicians play together on stage. Bloc Party is always going to be about that, musicianship and coming together from different places. Do I see us as an indie band? I guess it’s all about what you define as an indie band. Is it a band that produces music on an independent label? A band that looks indie? If I think of indie music, I don’t think of guitar these days.”

Bloc Party mengawali karirnya pada tahun 1998 saat Okoreke dan Lissack berjumpa di London saat masih duduk di sekolah menengah. Setahun kemudian mereka bertemu kembali secara kebetulan saat menyaksikan reading festival dan sejak itu mereka memutuskan untuk membuat sebuah band. Mereka memasang iklan lowongan untuk menjadi personil di NME dan juga sejumlah audisi, yang kemudian posisi bass dan drum diisi oleh Moakes dan Tong.

Awalnya nama Bloc Party belum terpikirkan oleh keempat personilnya, nama-nama yang semula diusulkan di antaranya Union, The Angel Range, dan Diet.

Baru pada tahun 2003 nama Bloc Party akhirnya resmi menjadi nama band mereka, dengan single pertama, The Marshals Are Dead, yang dimuat dalam sebuah kompilasi berjudul The New Cross, disusul dengan single berikutnya, She’s Hearing Voices. Kemudian Okoreke menyaksikan konser Franz Fedinand di tahun 2003 dan memberikan rekaman She’s Hearing Voices kepada sang vokalis, Alex Kapranos dan penyiar radio BBC 1 Steve Lamack. Publikasi pertama Bloc Party hadir ketika Lamack memperkenalkan She’s Hearing Voices di BBC 1 dan mengundang mereka untuk wawancara. Saat itulah nama Bloc Party mulai dikenal publik Inggris, yang kemudian membuat Wichita Records mengontrak mereka untuk masuk dapur rekaman dan merilis album pertama Silent Alarm.

Besar di Inggris, Bloc Party kemudian juga melebarkan sayap ke Amerika dan berhasil merebut perhatian penikmat musik Amerika.

Okoreke mengomentari Amerika sebagai “one of his wildest dreams”, ia mengatakan publik Amerika sangat responsif, dan penduduk kota yang mereka kunjungi memiliki sambutan positif yang berbeda-beda. Ia mengaku menyukai melakukan show di San Fransisco, New York dan Los Angeles, dimana penonton konser mereka menunjukkan antusiasme yang paling luar biasa di antara kota-kota lainnya di Amerika.

Album keempat mereka berjudul Four, mencerminkan karakter masing-masing empat orang personil yang tergabung di dalam Bloc Party, setelah menjalani hiatus selama empat tahun lamanya. Sebuah kurun waktu yang panjang untuk sebuah band yang namanya sudah bisa dikategorikan sebagai nama besar di industri musik indie, sementara saat Bloc Party absen, Okoreke merilis album solonya, The Boxer, dan melakukan promo tur albumnya sendiri dan hampir berpikiran untuk meninggalkan Bloc Party, sampai di tahun 2010 mereka kembali bertemu dan memutuskan untuk kembali produktif sebagai sebuah band.

Inspirasi Bloc Party dalam menulis lagu biasanya diambil dari pembicaraan sehari-hari yang dialami para personilnya dengan lingkungan sekitar. Seperti halnya pembicaraan Okoreke dengan anggota keluarga dan kekasihnya, juga dengan sesama personil band dan hal-hal yang dilihatnya sehari-hari, sesederhana matahari terbenam, atau film yang ditontonnya, dan buku-buku yang sedang dibacanya. Saat Bloc Party pertama kali muncul di tahun 2005 dengan album Silent Alarm, mereka memiliki sound yang terkesan betul-betul ‘baru’ dan sama sekali berbeda dengan band-band rock yang saat itu sedang mengisi panggung musik dunia. Awalnya inspirasi mereka datang dari duo elektronik pendatang baru asal Inggris, Disclosure, sebuah grup yang banyak didengarkan Okoreke saat pembuatan album Silent Alarm.

Salah satu musisi papan atas yang dikagumi Okoreke baik dari segi musik dan penulis lirik adalah Bjork, karena ia mampu mengekspresikan musiknya hanya lewat suaranya sendiri dimana banyak musisi lain tidak memiliki potensi yang sama untuk menyaingi keunikannya. Okoreke yang juga gemar mendengarkan musik neo soul menyebutkan Brandy sebagai salah satu musisi dari genre R&B/soul  yang digemarinya.

Menanggapi perselisihannya dengan personil Bloc Party yang lain di masa lalu, yang sempat membuat beredarnya kabar bahwa Bloc Party mencari calon vokalis baru untuk menggantikan dirinya, Okoreke mengatakan bahwa mungkin musisi yang bisa menjadi vokalis Bloc Party berikutnya adalah Old Dirty Bastard, lebih sebagai rapper dibandingkan sebagai penyanyi.

Visit them on blocparty.com and follow @BlocParty.

(pp)

*FMD March ’13*

Image

“If you’re in a band, you never want to be under one specific label. Because while we love rock music, we love R&B and every style of jazz, too. When you think of music you don’t want to think of one style. On my iTunes I erased all those styles (genres). I’d see – rock, rock, rock – and I can’t connect with that.” – Thomas Mars (Phoenix)

Setelah sukses dengan empat buah album, band alternative rock asal Perancis ini hadir kembali lewat album terbaru di tahun 2013 berjudul Bankrupt, yang dirilis 22 April 2013.

Seperti yang dituturkan vokalis Thomas Mars yang juga dikenal sebagai suami sutradara Sofia Coppola, kebanyakan band tidak ingin dikategorikan dalam suatu genre tertentu. Ia mengatakan bahwa jika ia ingin mendengarkan musik rock maka ia akan menyimak The Black Crowes, namun setelah itu ia akan teringat pada musik Otis Redding karena The Black Crowes banyak mendapatkan pengaruh dari musisi legendaris tersebut, sedangkan genre Otis Redding bukanlah rock. Hal itu membuat Mars percaya bahwa genre dan gaya bermusik bukan sesuatu yang baku, yang bisa diimplementasikan dari band satu ke band lainnya.

Phoenix pertama kali dikenal lewat hits mereka dari album If I Ever Feel Better dan Too Young, yang kedua turut menghiasi soundtrack film Lost In Translataion yang disutradarai Sofia Coppola. Kedua lagu ini ada di album United yang dirilis pada tahun 2000. Empat tahun kemudian (masa yang cukup panjang untuk merilis album kedua) mereka merilis album Alphabetical dengan hits Everything Is Everything dan Run Run Run. Setelah melakukan promo tur ke seluruh dunia sejumlah 150 jadwal, Phoenix merangkum perjalanan mereka di atas panggung dengan merilis sebuah album live berjudul Live! Thirty Days Ago pada tahun 2005, yang dirilis hanya dalam waktu sebulan setelah mereka menyelesaikan tur. Setahun kemudian album It’s Never Been Like That dirilis dengan hits andalan Long Distance Call. Sebelum merilis album berikutnya, Phoenix terlibat dalam proyek kompilasi Kitsune Tabloid, sebuah album kompilasi yang dirilis label rekaman musik elektronik dan fashion Perancis Kitsune, memuat musik dari nama-nama kenamaan seperti Elvis Costello, Roxy Music, Kiss dan Lou Reed.

Pada tahun 2009 album Wolfgang Amadeus Phoenix dirilis. Judul album ini terinspirasi dari sebuah buku berjudul Mozart In The Jungle, yang digabungkan dengan berbagai hal yang disukai Phoenix sebagai sebuah band. Album ini diproduseri Phillipe Zdar (Cassius). Album yang menampilkan hits-hits seperti 1901, Lisztomania, Girlfriend, Armistice, Lasso, dan Fences, berhasil meraih Grammy Awards untuk kategori Best Alternative Music Albums, disusul dengan 1901 yang duduk di posisi juara Billboard Hot Alternative Songs.

Dalam proses pembuatan album Bankrupt, Phoenix menyatakan bahwa album terbaru mereka memiliki nuansa berbeda dengan album-album sebelumnya, mereka berusaha membuat sesuatu yang eksperimental dan menanggalkan warna pop seperti yang ada di dalam album Wolfgang Amadeus Phoenix. Daniel Glass, pendiri Glassnote Records, label tempat Phoenix bernanung, mengatakan bahwa album baru mereka mungkin akan sulit menyaingi Wolfgang Amadeus Phoenix, namun Bankrupt bisa menjadi sebuah revolusi dalam sejarah album-album yang pernah dilahirkan Phoenix. 

(pp)

*FMD March ’13*